Search This Blog

Total Pageviews

Advertisement

Labels

Blog Archive

Buku “Metode Pengembangan Teori Antropologi”, upaya mendorong produksi ilmu pengetahuan

 January 12, 2026 in Mamta

Reading Time: 3 mins

Penulis: Larius Kogoya - Editor: Arjuna


Jayapura, Jubi – Antropolog Universitas Cenderawasih atau Uncen Jayapura, Papua, Ibrahim Peyon, S.Sos., M.Si., Ph.D mengatakan buku yang tulisnya dengan judul “Metode Pengembangan Teori Antropologi” merupakan upaya mendorong produksi teori-teori baru dan ilmu pengetahuan di Papua.

Ia mengatakan, buku setebal 420 halaman itu tidak sebatas pada teori antropologi. Namu bisa lebih luas menjadi acuan untuk ilmu-ilmu sosial dan hal terkait lainnya.

Katanya, buku ini hadir ketika ia dipercayakan mengampu tiga mata kuliah yaitu teori antropologi klasik, teori antropologi kontemporer, dan antropologi epistemologi. Tiga mata kuliah ini menjadi bagian dari mata kuliah pokok antropologi.

“Karena kepercayaan itu, selama saya mengajar Strata Satu (S1) maupun Strata Dua (S2), saya ada ketemu satu celah pengetahuan. Celah pengetahuan itu adalah banyak orang berbicara tentang metodologi, bahkan banyak sumber buku, banyak sekali, ada juga banyak bicara tentang teori. Tapi setelah saya mempelajari mendalami sembari dengan mengajar mahasiswa S1 dan S2 itu ada celah besar yang saya ketemu di situ,” kata Peyon kepada Jubi saat wawancara di Aula FISIP Uncen, di Kota Jayapura, Papua, Jumat (9/1/2026).

Menurut Ibrahim, celah yang ia temukan dimana para ilmuwan itu tidak menjelaskan atau tidak menghubungan antara metodologi dengan teori. Akan tetaapi seolah-olah metodologi terpisah sendiri dari teori.

Mereka tidak menjelaskan bagaimana para ilmuwan itu membangun sebuah teori dari tahap awal hingga tahap-tahap selanjutnya, sampai menghasilkan sebuah  teori itu diuji dan menjadi teori yang mapan.

“Belum pernah ada dalam buku yang menjelaskan itu. Setelah saya menemukan cela ini, saya pikir perlu ada ada buku untuk menulis ini,” ujarnya.

Ibrahim Peyon mengatakan, buku ini hadir untuk mengisi kekosongan itu, tujuannya adalah membantu mahasiswa S2 dan S3. Buku ini diharapkan bisa dapat digunakan oleh mahasiswa S2 maupun mahasiswa S3, untuk mengembangkan disertasi dan penelitian-penelitian. Dapat mengembangkan satu ilmu pengetahuan, dan bisa melahirkan teori-teori baru.

“Tapi kita sendiri tidak bisa memproduksi ilmu pengetahuan, tidak bisa menghasilkan satu teori yang baru. Karena itu buku ini hadir untuk membantu orang Papua maupun yang bukan Papua, untuk mengembangkan diri mereka dan melahirkan teori-teori yang baru,” kata Peyon.

Ibrahim Peyon menjelaskan sekilas isi dari buku yang ditulisnya, yaitu bagian pertama adalah pendahuluan, bagian kedua arah dari ilmu pengetahuan, bagian ketiga bagaimana metode-metode yang bisa digunakan dalam pengembangan teori, bagian keempat berkaitan dengan sintesis atau proses penggabungan data.

“Sebenarnya ada empat belas tahap dalam buku ini. Dari semua bab itu, di bab 14 itu menarik, karena bab itu saya membahas ada empat tema khusus, yaitu pertama epistemologis indigenous people adalah bagaimana ilmu pengetahuan dari masyarakat kampung atau masyarakat adat dikembangkan menjadi teori. Jadi ilmu bukan dari orang lain tetapi ilmu dari masyarakat,” ucapnya.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen Dr. Marlina Flassy, S.Sos., M.Hum., Ph.D yang membawahi jurusan antropologi mengatakan, selama ini banyak dosen antropologi Uncen yang menghasilkan karya hasil riset dan penelitian tentang antropologi orang Papua.

Ia berharap hasil riset dan penelitian itu dapat digunakan pemerintah pembangunan Papua yang berkelanjutan.

“Supaya bisa ada sumbangan pemikiran atau bersama membangun daerah dengan ide-ide atau gagasan-gagasan oleh para antropolog Uncen,” kata Dr. Marlina Flassy.

Dr. Marlina Flassy juga mengharapkan kedepan jurusan antropologi Uncen lebih banyak melakukan penelitian yang berkaitan dengan persoalan sosial budaya di Tanah Papua.

Katanya, hasil-hasil penelitian itu bisa diseminarkan dengan mengundang pihak pemerintah, swasta, pihak keagamaan, pihak adat dan seluruh pengambil kebijakan yang ada.

“Supaya lewat kajian-kajian itu tidak sebatas riset atau karya penelitian tapi aplikasi tindak lanjut dari hasil penelitian yang dilakukan oleh jurusan antropologi bisa digunakan untuk program pembangunan oleh pemerintah, terutama dalam persoalan Papua ke depan,” ucapnya. (*)

No comments:

Post a Comment