"Melalui transmigrasi, kita akan mencoba mewujudkan apa yang telah dijanjikan, yaitu menyatukan semua kelompok etnis menjadi satu bangsa... kelompok etnis yang berbeda pada akhirnya akan hilang karena integrasi... dan akan ada satu jenis manusia."
The emotional force of all discourses on the human rights crisis in West Papua, and the arguments for Indonesia to come clean before the international community, is carried by citizenship media or undercover jounalists with moving, sometimes almost unbearable stories of the victims and survivors of such brutality. It could be argued that West Papua and its people deserve a West Papua Declaration in order to fight against genocide in Melanesia, and the Pacific Region. There has been progress, with Solomon Islands, Papua New Guinea, and Vanuatu already mounting strategies diplomatically to address the Papua Conflict. We need more effort. This will be in keeping with the prominent work by, among those who made a difference, Raphael Lemkin, a Polish Jew who invented the word genocide and who lobbied the U.N. to make genocide the subject of an international treaty, and Senator William Proxmire, who for 19 years spoke every day on the floor of the U.S. Senate to urge the U.S. to ratify the U.N. treaty inspired by Lemkin's work. Indonesia, somehow must be stopped. Something can be done to help the situation, led by the U.S.Read on:http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=octovianusmote...
Nairobi – Pemimpin Kemerdekaan Papua Barat Benny Wenda dan Menteri Luar Negeri Vanuatu Ralph Regenvanu menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9/2019 Kelompok Negara Karibia dan Pasifik Afrika (African Caribbean and Pacific Group of States, ACP) di KICC, Nairobi, Kenya.
Situs web Gpanreunification.org melansir KTT itu diikuti kalangan diaspora Afrika di seluruh dunia. Peserta yang hadir berasal dari 51 negara di Afrika, 14 di Pasifik, dan 10 di Karibia.
KTT 2019 khusus membahas tema rasisme dan kejahatan hak asasi manusia HAM di Papua, Indonesia.
Disebutkan, “Papua Barat adalah rumah kita. Sekarang waktu yang tepat bagi Afrika untuk mendukung Papua Barat, dengan mengambil tindakan untuk mengakhiri ‘genosida hitam’ di sana.”
Dilansir pula bahwa lebih 500.000 orang Papua terbunuh di Papua Barat. Setiap hari orang-orang Papua dijebloskan ke penjara karena menyatakan keinginan mereka merdeka.
“Waktunya telah tiba bagi dunia untuk menanggapi kekejaman terhadap orang-orang keturunan Afrika di Papua Barat,” papar situs web milik Global Pan Africanism Network (GPAN).
Wakil Presiden Kenya William Ruto menyambut delegasi yang tiba di lokasi konferensi.
Pra konferensi digelar sejak 6-10 Desember 2019. Sesi ini diisi pameran ekonomi pedesaan. Pada 8 Desember, peserta membahas khusus tema pemberdayaan perempuan dan remaja di negara-negara ACP.
Puncak KTT berlangsung dua hari sejak Senin, 9 Desember 2019. Agenda puncak dihadiri kepala negara dan pemerintahan.
GPAN merupakan organisasi Hak Sipil Internasional dan Pan Afrika untuk menyatukan kembali semua orang keturunan Afrika, serta mengadvokasi hak-hak dan kebebasan mereka di seluruh dunia. Organisasi ini terdaftar di Accra, Ghana. []GOOD INDONESIA-RUT